Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

PERJUANGAN ITU HARUS TETAP BERJALAN DENGAN ISTIQOMAH

Written By tpq-rm.blogspot.com on Selasa, 26 Mei 2020 | 22:33

Kemampuan seseorang dalam menjalani hidup dan memperjuangkan hidup itu memanglah tidak mudah, dimana pikiran dan keringat pengorbanan yang harus mengucur setiap saat, menjadi saksi bisu atas sebuah tujuan besar yang hendak akan dicapai.

Anak-anak kita yang sedang diperjuangkan itu menghilangkan kebodohan, merupakan bentuk harapan menuju kebaikan. Jiwa dan hati yang polos mereka, cenderung menjadi obat pelipur dikala lelah dalam sebuah perjalanan perjuangan.


Oleh karenanya jangan pernah lupa akan sejarah yagn telah berlalu. Sejarah itu menjadi satu cermin atas sesuatu yang terjadi dihadapan kita.

Semoga kita tetap menjaga komunikasi dan silaturrahmi, demi sebuah proses pembelajaran yang berkesinambungan, sehingga menjadi harapan besar untuk mendapatkan hidayah dan istiqomah, akan nilai-nilai qur'ani, supaya terbentuk akhlaq yagn terpuji bagi karakter dan perkembangan jiwa anak didik kita.

Galeri Peringatan 1 Muharraom 1441 Hijriyah di hadiri Bupati Jember








Liburan sekolah, harus belajar produktif dirumah

Written By tpq-rm.blogspot.com on Senin, 25 Mei 2020 | 12:08

Liburan sekolah yang cukup panjang, karena adanya Pandemi Covid 19 ini, tentu membuat sangat rindu pada suasana, dimana anak-anak bercanda ria dengan teman dan gurunya. Di tengah Pandemi Covid 19 ini, sudah dihimbau oleh pemerintah untuk tetap dan belajar di rumah saja, hal ini dalam rangka mencegah penyebaran Corona virus yang sudah mendunia.

Belajar dirumah sambil menikmati alam sekitar, dan selalu bersyukur akan nikmat Tuhan yang selalu di karuniakan. Kita semua berharap wabah ini segera berlalu, dan aktifitas berjalan normal kembali seperti sedia kala. 

Keinginan untuk bersua dan belajat secara langsung dan bersama-sama, sungguh sangat dirindukan, betapa tidak bahwa libur terpanjang dalam sejarah pendidikan kita, hingga menjadi suatu kebosanan, ketika harus dirumah saja, namun pada sisi yang lain, hal itu bentuk himbauan dari pemerintah, yang harus ditaati sebagai warga negara yang baik.

Sepi nan sunyi, itulah yang dirasakan semua pihak, sehingga berdampak pada lapisan masyarakat, baik dibidang pendidikan, ekonomi, politik, dan juga sosial budaya, karena kesehatan jauh lebih penting dari segala-galanya. (f*)


TK Al Qur'an (TKQ) Raudlotul Muhlisin

Written By tpq-rm.blogspot.com on Minggu, 24 Mei 2020 | 14:51


Taman Kanak-Kanak (TK) Al Qur'an yang sedang kami rintis, hakekatnya adalah memberikan pelajaran kepada anak didik sedini mungkin, dimana anak didik ini diperkenalkan dulu kepada huruf-huruf hijaiyyah, sampai mereka memahami perbedaan dari masing-masing huruf hijaiyyah.

Meski banyak rintangan dan masih kurangnya fasilitas yang dimiliki oleh Yayasan Raudlotul Muhlisin untuk menopang kegiatan belajar mengajar peserta didik, namun kami tidak kehilangan semangat untuk terus berjuang dalam rangka ikut mencerdaskan anak bangsa, meski guru-guru yang kami miliki masih sukarelawan, namun kami juga tetap memperjuangkannya.

Berjalan kurang lebih dari tiga tahun , TK Al Qur'an ini masih ada 20 anak-anak yang sekolah sambil bermain, dan juga sambil belajar mengaji. anak-anak tidak hanya di ajarkan menulis huruf laten dan belajar membaca serta menyusun kalimat, namun lebih dari itu anak-anak juga di ajari untuk rajin mengaji.

Tentu apa yang kami perbuat ini memiliki tujuan besar dan jangka panjang, sehingga anak-anak merasa nyaman dan senang, sekolah sambil bermain, dan sekolah sambil belajar, karena memang hakekatnya anak-anak adalah bermain dan menyukai permainan.

TK Al Qur'an Raudlotul Muhlisin hadir untuk menciptakan generasi yang kreatif, cerdas, beriman, berilmu dan bertaqwa kepada Allah SWT, sehingga Iman, Ilmu, dan Amal akan tercapai dengna sendirinya.

Inilah yang menjadi upaya kami dalam rangka mencetak, membentuk karakteristik anak yang InsyaAllah suatu saat nanti mereka berjiwa dan berkahlaq Qur'ani.

Santri Taman Pendidikan Al Qur'an (TPQ) Raudlotul Muhlisin


NO NAMA TEMPAT, TGL-LAHIR   JILID
1 FITRAH RAMADIANSYAH JEMBER, 16 JULI 2015 PRA TK A
2 AZKA DISA SAPUTRA JEMBER, 30 JANUARI 2016 PRA TK A
3 MEDIKA RAFLI PRATAMA JEMBER, 11 APRIL 2016 PRA TK A
4 CHINTA AYU NAQUILA PUTRI JEMBER, 17 JANUARI 2017 PRA TK A
5 RENATA ALVIATUL S JEMBER, 30 SEPTEMBER 2014 PRA TK A
6 SITI KHUDZIAH PUTRI JEMBER, 08 JUNI 2014 PRA TK A
7 FAHIRA SALWA NABILA JEMBER, 08 DESEMBER 2015 PRA TK A
8 AHMAD SODIQ JEMBER, 28 MARET 2016 PRA TK A
9 CANDRA ADI PUTRA JEMBER, 22 MEI 2017 PRA TK A
10 ABDULLAH SABDA AR-RAOHMAN JEMBER, 28 JANUARI 2014 PRA TK B
11 MOH. MAWLIDY PRATAMA JEMBER, 27 FEBRUARI 2012 PRA TK B
12 AL- FARISI JEMBER, 09 APRIL 2014 1 C
13 INARA ANINDIA NUR SAFA JEMBER, 25 SEPTEMBER 2015 1 C
14 MOH. ZIAN HUDA MAULANA JEMBER, 04 APRIL 2011 1 C
15 MOHAMMAD DAFA AL-GHIFARI JEMBER, 07 JANUARI 2015 1 C
16 PUTRA RAMADHANI JEMBER, 09 AGUSTUS 2011 2 A
17 DEVITA SARASWATI JEMBER, 16 JUNI 2012 2 A
18 ADE DWI FENDIYANTO JEMBER, 26 MARET 2011 2 A
19 AYUNDA DIVA LESTARI JEMBER, 07 DESEMBER 2011 2 A
20 ZASKIYA MAYA NAURA AZ-ZAHRA JEMBER, 16 JUNI 2013 2 A
21 SAVINA RIZKY AZAHRO JEMBER, 22 NOVEMBER 2013 2 A
22 FAISAL HASBI JEMBER, 19 OKTOBER 2013 2 A
23 MOCH. AKHBAR ABDUL RAHMAN  JEMBER, 17 JULI 2013 2 B
24 MOCH. AQIL ATTHA KHOIRULLAH JEMBER, 27 NOVEMBER 2010 2 B
25 ZAFIRA NAYLA FAUZIAH JEMBER, 12 FEBRUARI 2016 2 B
26 M. ALIF SYAFA JEMBER,  2 B
27 ZAIDAN PUTRA RAMADHAN JEMBER, 28 JUNI 2015 2 B
28 RIZQY BINTANG PERMANA JEMBER, 27 AGUSTUS 2012 3 A
29 ISMA PUTRI APRILIA JEMBER, 04 MEI 2009 3 A
30 ALIF FIRMANSYAH JEMBER, 08 FEBRUARI 2013 3 A
31 IERA IERLINA ZALIA ULFA JEMBER, 24 FEBRUARI 2013 3 A
32 SITI AISYAH JEMBER, 01 JUNI 2009 3 A
33 RIKA APRILIA JEMBER,  3 A
34 SYAIFUL ANUGRAH PRATAMA JEMBER, 14 JUNI 2011 3 A
35 MUHAMMAD PUTRA SATRIA JEMBER, 28 AGUSTUS 2010 3 A
36 VERIANSYAH HADIYANTO JEMBER, 02 JANUARI 2006 3 A
37 ILHAM ADI PUTRA JEMBER, 02 OKTOBER 2010 3 B
38 ADITYA EKA PRATAMA JEMBER, 17 JULI 2010 3 B
39 JENI ANA RIZKI KURNIA JEMBER, 26 JANUARI 2010 4 A
40 VELI DWI AMELIA JEMBER, 29 MARET 2010 4 A
41 FIKI ROHMATULLAH JEMBER, 18 MEI 2011 4 A
42 JANNATUL NURKHOIMAH JEMBER, 14 JANUARI 2013 4 B
43 HILDA OKTAVIANI JEMBER, 28 NOVEMBER 2012 4 B
44 DESTI WULANDARI JEMBER, 17 DESEMBER 2007 5 A
45 LINTANG AGUSTINA JEMBER, 26 AGUSTUS 2006 JUZ 27
46 INDRIANI PUTRI KINANTI JEMBER, 07 OKTOBER 2008 AL- QUR'AN
47 AMELIA AZIZAH JEMBER, 10 JUNI 2009 GHORIB
48 ANJANI ABNI AZIZAH JEMBER, 19 SEPTEMBER 2012 GHORIB
49 DEVI BAITUL HASANAH JEMBER, 15 FEBRUARI 2006 GHORIB
50 FIKA MAULIDATUL HASANAH JEMBER PRA KHOTAMAN
       
  UNTUK LPD YANG MASIH PROSES
1 .SITI MAYSAROH JEMBER FINISHING
   2. HOLIDA JEMBER GHORIB
3. MIFTAHUL JANNAH JEMBER GHORIB
4. ILMI JEMBER TAJWID
5 .SITI HOLILAH JEMBER 4 B

Pengertian Islam Menurut Bahasa dan Istilah Dalam Al Quran

Written By tpq-rm.blogspot.com on Minggu, 04 Juni 2017 | 09:28

Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh manusia hingga akhir zaman.
Pengertian Islam secara  harfiyah artinya damai, selamat, tunduk, dan bersih. Kata Islam terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam), M (mim) yang bermakna dasar “selamat” (Salama)
Pengertian Islam Menurut Bahasa, Islam berasal dari kata aslama yang berakar dari kata salama. Kata Islam merupakan bentukmashdar (infinitif) dari kata aslama ini.
الإسلام مصدر من أسلم يسلم إسلاما
Ditinjau dari segi bahasanya yang dikaitkan dengan asal katanya, Islam memiliki beberapa pengertian, diantaranya adalah:
1. Berasal dari ‘salm’ (السَّلْم) yang berarti damai.
Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman (QS. 8 : 61)
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Kata ‘salm’ dalam ayat di atas memiliki arti damai atau perdamaian. Dan ini merupakan salah satu makna dan ciri dari Islam, yaitu bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada perdamaian.
Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman : (QS. 49 : 9)
 “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Sebagai salah satu bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian adalah bahwa Islam baru memperbolehkan kaum muslimin berperang jika mereka diperangi oleh para musuh-musuhnya.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: (QS. 22 : 39)
 “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.”
2. Berasal dari kata ‘aslama’ (أَسْلَمَ) yang berarti menyerah.
Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemeluk Islam merupakan seseorang yang secara ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya hanya kepada Allah SWT. Penyerahan diri seperti ini ditandai dengan pelaksanaan terhadap apa yang Allah perintahkan serta menjauhi segala larangan-Nya. Menunjukkan makna penyerahan ini,
Allah berfirman dalam al-Qur’an: (QS. 4 : 125) “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.”
Sebagai seorang muslim, sesungguhnya kita diminta Allah untuk menyerahkan seluruh jiwa dan raga kita hanya kepada-Nya. Dalam sebuah ayat Allah berfirman: (QS. 6 : 162)
“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”
Karena sesungguhnya jika kita renungkan, bahwa seluruh makhluk Allah baik yang ada di bumi maupun di langit, mereka semua memasrahkan dirinya kepada Allah SWT, dengan mengikuti sunnatullah-Nya. Allah berfirman: (QS. 3 : 83) :
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.”
Oleh karena itulah, sebagai seorang muslim, hendaknya kita menyerahkan diri kita kepada aturan Islam dan juga kepada kehendak Allah SWT. Karena insya Allah dengan demikian akan menjadikan hati kita tentram, damai dan tenang (baca; mutma’inah).
3. Berasal dari kata istaslama–mustaslimun : penyerahan total kepada Allah.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 37 : 26) “Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.”
Makna ini sebenarnya sebagai penguat makna di atas (poin kedua). Karena sebagai seorang muslim, kita benar-benar diminta untuk secara total menyerahkan seluruh jiwa dan raga serta harta atau apapun yang kita miliki, hanya kepada Allah SWT. Dimensi atau bentuk-bentuk penyerahan diri secara total kepada Allah adalah seperti dalam setiap gerak gerik, pemikiran, tingkah laku, pekerjaan, kesenangan, kebahagiaan, kesusahan, kesedihan dan lain sebagainya hanya kepada Allah SWT. Termasuk juga berbagai sisi kehidupan yang bersinggungan dengan orang lain, seperti sisi politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kebudayaan dan lain sebagainya, semuanya dilakukan hanya karena Allah dan menggunakan manhaj Allah.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman (QS. 2 : 208)
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Masuk Islam secara keseluruhan berarti menyerahkan diri secara total kepada Allah dalam melaksanakan segala yang diperintahkan dan dalam menjauhi segala yang dilarang-Nya.
4. Berasal dari kata ‘saliim’ (سَلِيْمٌ) yang berarti bersih dan suci.
Mengenai makna ini, Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. 26 : 89):
 “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 37: 84)  “(Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci.”
Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang suci dan bersih, yang mampu menjadikan para pemeluknya untuk memiliki kebersihan dan kesucian jiwa yang dapat mengantarkannya pada kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Karena pada hakekatnya, ketika Allah SWT mensyariatkan berbagai ajaran Islam, adalah karena tujuan utamanya untuk mensucikan dan membersihkan jiwa manusia.
Allah berfirman: (QS. 5 : 6)
 “Allah sesungguhnya tidak menghendaki dari (adanya syari’at Islam) itu hendak menyulitkan kamu, tetapi sesungguhnya Dia berkeinginan untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”
5. Berasal dari ‘salam’ (سَلاَمٌ) yang berarti selamat dan sejahtera.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an: (QS. 19 : 47)
Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”
Maknanya adalah bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada keselamatan dan kesejahteraan. Karena Islam memberikan kesejahteraan dan juga keselamatan pada setiap insan.
Adapun Pengertian Islam Menurut Istilah, (ditinjau dari sisi subyek manusia terhadap dinul Islam), Islam adalah ‘ketundukan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Muhammad SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum/ aturan Allah SWT yang dapat membimbing umat manusia ke jalan yang lurus, menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat.’
Definisi di atas, memuat beberapa poin penting yang dilandasi dan didasari oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Diantara poin-poinnya adalah:
  1. Islam sebagai wahyu ilahi 
    Mengenai hal ini, Allah berfirman QS. 53 : 3-4 :
 “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
  1. Diturunkan kepada nabi dan rasul (khususnya Rasulullah SAW)
Membenarkan hal ini, firman Allah SWT (QS. 3 : 84)
“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.”
  1. Sebagai pedoman hidup
Allah berfirman (QS. 45 : 20):
“Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.”
  1. Mencakup hukum-hukum Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW
Allah berfirman (QS. 5 : 49-50)
 “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”
5. Membimbing manusia ke jalan yang lurus.
Allah berfirman (QS. 6 : 153)
 “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”
  1. Menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Allah berfirman (QS. 16 : 97)
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(dikutip dari el-misbah.blogspot.com)

Besaran Fidyah dan Cara Pembayaran Fidyah

Setelah Kita Tahu Kewajiban Ibu Hamil Dan Menyusui, Qadha Atau Membayar Fidyah, pada artikel yang lalu. Maka pada kesempatan kali ini kita belajar berapa Besaran Fidyah Dan Cara Pembayaran Fidyah
Berikut penjelasan selengkapnya :
Bentuk dan Besaran Fidyah
Menurut Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc. MA yang di ambil dari RumhFiqih.com Bentuk fidyah puasa ini berupa makanan, biasanya adalah makanan pokok yang disetiap negri berbeda satu dengan yang lainnya. Makanan pokok ini bisa dalam bentuk siap santap atau hanya berupa bahan mentah, keduanya boleh-boleh saja, karena memang tidak ada aturan khusus yang mengikat.
Namun untuk ukuran fidyah, seberapa banyak jumlahnya yang harus dikeluarkan, disini para ulama berbeda pandangan:
  1. Satu Mud
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’, jilid 6, hal 257-259 mengemukakan pendapatnya bahwa kewajiban fidyah itu hanya satu mud. Istilah mud ini adalah istilah yang menunjuk ukuran volume, bukan ukuran berat, sehingga jika dikonfersi kedalam hitungan berat sebagian menilai jumlahnya adalah 675 gram, atau kurang dari 1 liter. Satu mud ini berarti seperempat ukuran zakat fitrah yang jumlahnya empat mud.
  1. Satu Sha’
Ini adalah pendapat dari kalangan Hanafiyah, seperti yang dijelaskan oleh Imam Al-Kasani dalam Bada’i’i wa As-Shana’i’, jilid 2, hal. 92. Satu sha’ itu setara dengan empat mud, sama dengan jumlah zakat fitrah yang dibayarkan. Jika dikonfersi kedalam ukuran gram, lebih kurang beratnya adalah 2, 176 gram, atau 2, 7 liter.
Cara Pembayaran Fidyah
Inti pembayaran fidyah adalah mengganti satu hari puasa yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin. Namun, model pembayarannya dapat diterapkan dengan dua cara,
  1. Memasak atau membuat makanan, kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari-hari yang ditinggalkan selama bulan Ramadhan. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh Anas bin Malik ketika beliau sudah menginjak usia senja (dan tidak sanggup berpuasa)
  2. Memberikan kepada orang miskin berupa makanan yang belum dimasak. Alangkah lebih sempurna lagi jika juga diberikan sesuatu untuk dijadikan lauk.
Pemberian ini dapat dilakukan sekaligus, misalnya membayar fidyah untuk 20 hari disalurkan kepada 20 orang miskin. Atau dapat pula diberikan hanya kepada 1 orang miskin saja sebanyak 20 hari. Al Mawardi mengatakan, “Boleh saja mengeluarkan fidyah pada satu orang miskin sekaligus. Hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.”
Waktu Pembayaran Fidyah
Seseorang dapat membayar fidyah, pada hari itu juga ketika dia tidak melaksanakan puasa. Atau diakhirkan sampai hari terakhir bulan Ramadhan, sebagaimana dilakukan oleh sahabat Anas bin Malik ketika beliau telah tua.
Yang tidak boleh dilaksanakan adalah pembayaran fidyah yang dilakukan sebelum Ramadhan. Misalnya: Ada orang yang sakit yang tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya, kemudian ketika bulan Sya’ban telah datang, dia sudah lebih dahulu membayar fidyah. Maka yang seperti ini tidak diperbolehkan. Ia harus menunggu sampai bulan Ramadhan benar-benar telah masuk, barulah ia boleh membayarkan fidyah ketika hari itu juga atau bisa ditumpuk di akhir Ramadhan.
Bolehkah Fidyah dengan Uang?
Menurut KH Arwani Faishal Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Mas’ail PBNU Diambil dari NU.or.id (30/09/08 ), Fidyah adalah pengganti dari suatu ibadah yang telah ditinggalkan, berupa sejumlah makanan yang diberikan kepada fakir miskin.
Dengan mengamati definisi dan tujuan fidyah yang merupakan santunan kepada orang-orang miskin, maka boleh saja memberikan fidyah dalam bentuk uang. Lantaran bagaimana jika orang miskin tersebut, sudah cukup memiliki bahan makanan. Bukankah lebih baik memberikan fidyah dalam bentuk uang, agar dapat dipergunakannya untuk keperluan lain.
Oleh sebab itu, dapat diambil kesimpulan akhir bahwa kewajiban fidyah boleh dilaksanakan dengan mengganti uang, jika sekiranya lebih bermanfaat. Namun jika ada indikasi bahwa uang ter­sebut akan digunakan untuk foya-foya, maka kita wajib memberi­kannya dalam bentuk bahan makanan pokok.
Semoga bermanfaat.

Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Saat Dirampok

Mari kita belajar dari Kisah Kejujuran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Saat Dirampok , Suatu hari Abdul Qadir yang masih belia meminta izin ibundanya untuk pergi ke kota Bagdad. Bocah ini ingin sekali mengunjungi rumah orang-orang saleh di sana dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka.
Sang ibunda merestui. Diberikanlah kepada Abdul Qadir empat puluh dinar sebagai bekal perjalanan. Agar aman, uang disimpan di sebuah saku yang sengaja dibuat di posisi bawah ketiak. Sang ibunda tak lupa berpesan kepada Abdul Qadir untuk senantiasa berkata benar dalam setiap keadaan. Ia perhatikan betul pesan tersebut, lalu ia keluar dengan mengucapkan salam terakhir.
“Pergilah, aku sudah menitipkan keselamatanmu pada Allah agar kamu memperoleh pemeliharaan-Nya,” pinta ibunda Abdul Qadir.
Bocah pemberani itu pun pergi bersama rombongan kafilah unta yang juga sedang menuju ke kota Bagdad. Ketika melintasi suatu tempat bernama Hamdan, tiba-tiba enam puluh orang pengendara kuda menghampiri lalu merampas seluruh harta rombongan kafilah.
Yang unik, tak satu pun dari perampok itu menghampiri Abdul Qadir. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka mencoba bertanya kepadanya, “Hai orang fakir, apa yang kamu bawa?”
“Aku membawa empat puluh dinar,” jawab Abdul Qadir polos.
“Di mana kamu meletakkannya?”
“Aku letakkan di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”
Perampok itu tak percaya dan mengira Abdul Qadir sedang meledeknya. Ia meninggalkan bocah laki-laki itu.
Selang beberapa saat, datang lagi salah satu anggota mereka yang melontarkan pertanyaan yang sama. Abdul Qadir kembali menjawab dengan apa adanya. Lagi-lagi, perkataan jujurnya tak mendapat respon serius dan si perampok ngelonyor pergi begitu saja.
Pemimpin gerombolan perampok tersebut heran ketika dua anak buahnya menceritakan jawaban Abdul Qadir. “Panggil Abdul Qadir ke sini!” Perintahnya.
“Apa yang kamu bawa?” Tanya kepala perampok itu.
“Empat puluh dinar.”
“Di mana empat puluh dinar itu sekarang?”
“Ada di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”
Benar. Setelah kepala perampok memerintah para anak buah menggledah ketiak Abdul Qadir, ditemukanlah uang sebanyak empat puluh dinar. Sikap Abdul Qadir itu membuat para perampok geleng-geleng kepala. Seandainya ia berbohong, para perampok tak akan tahu apalagi penampilan Abdul Qadir saat itu amat sederhana layaknya orang miskin.
“Apa yang mendorongmu mengaku dengan sebenarnya?”
“Ibuku memerintahkan untuk berkata benar. Aku tak berani durhaka kepadanya,” jawab Abdul Qadir.
Pemimpin perampok itu menangis, seperti sedang dihantam rasa penyesalan yang mendalam. “Engkau tidak berani ingkar terhadap janji ibumu, sedangkan aku sudah bertahun-tahun mengingkari janji Tuhanku.”
Dedengkot perampok itu pun menyatakan tobat di hadapan Abdul Qadir, bocah kecil yang kelak namanya harum di mata dunia sebagai Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Drama pertobatan ini lantas diikuti para anak buah si pemimpin perampok secara massal.
Kisah ini diceritakan dalam kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syekh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibari, yang mengutip cerita dari al-Yafi’i, dari Abu Abdillah Muhammad bin Muqatil, dari Syekh abdul Qadir al-Jailani. (Mahbib)
Diambil dari rubrik hikmah NU.Or.id

Nilai Dalam Sholat

Peristiwa Isra Mi’raj menjadi bukti perjalanan Nabi SAW menembus dimensi waktu dan tempat, dalam rangka menerima langsung perintah shalat dari Allah SWT, tanpa melalui malaikat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peranan shalat bagi kehidupan kaum Muslimin.
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Isra’ [17]: 1).
Peringatan Isra Mi’raj merupakan momentum bagi kaum Muslimin untuk mengevaluasi kualitas dan mengambil pelajaran (ibrah) dari nilai-nilai shalat. Sehingga, shalat yang dilakukan mampu mengubah seseorang menjadi lebih bermakna dalam kehidupan pribadi dan sosial.
Di antara Nilai-Nilai Shalat itu adalah Pertama, shalat mendidik untuk menyucikan diri dari sifat-sifat buruk. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS al-Ankabut [29]: 45).
Kedua, shalat mendidik kesatuan dan persatuan umat. Orang shalat menghadap ke satu tempat yang sama, yaitu Baitullah. Hal ini menunjukkan pentingnya mewujudkan persatuan dan kesatuan umat. Perasaan persatuan ini akan menimbulkan saling pengertian dan saling melengkapi antarsesama.
Ketiga, shalat mendidik disiplin waktu. Setiap yang shalat selalu memeriksa masuknya waktu shalat, berusaha menunaikannya tepat waktu, sesuai ketentuan, dan menaklukkan nafsunya untuk tidak tenggelam dalam kesibukan duniawi.
Keempat, shalat mendidik tertib organisasi. Menyangkut tertibnya jamaah shalat yang baris lurus di belakang imam dengan tanpa adanya celah kosong (antara yang satu dan jamaah di kanan kirinya) mengembalikan kaum Muslimin pada perlunya nidzam (tertib organisasi).
Kelima, shalat mendidik ketaatan kepada pemimpin. Mengikuti gerakan imam, tidak mendahuluinya walau sesaat, menunjukkan adanya ketaatan dan komitmen atau loyal, serta meniadakan penolakan terhadap perintahnya, selama perintah itu tidak untuk bermaksiat. “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah SWT.” (HR Ahmad).
Keenam, shalat mendidik keberanian mengingatkan pimpinan. Jika imam lupa, makmum mengingatkannya (membaca subhanallah), hal ini menunjukkan keharusan rakyat untuk mengingatkan pemimpinnya jika melakukan kesalahan.
Ketujuh, shalat mendidik persamaan hak. Pada shalat berjamaah, dalam mengisi shaf tidak didasarkan pada status sosial jamaah, tidak pula memandang kekayaan atau pangkat, walau dalam shaf terdepan sekalipun. Gambaran ini menunjukkan adanya persamaan hak tanpa memedulikan tinggi kedudukan maupun tua umurnya.
Kedelapan, shalat mendidik hidup sehat. Shalat memberikan kesan kesehatan, yang diwujudkan dalam gerakan di setiap rakaat, yang setiap harinya minimal 17 rakaat secara seimbang. Hal ini merupakan olahraga fisik dengan cara sederhana dan mudah gerakannya.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. TPQ Raudlotul Muhlisin - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger